Dharianti’s Weblog


August 21, 2007, 6:39 am
Filed under: Uncategorized

Melodi Lagu Terinspirasi Musik Dangdut


Vincent Lagea; Pemuda Papua Nugini yang Ciptakan Lagu “Nasional” Indonesia
Seorang pemuda calon pastor dari Papua Nugini mengaku jatuh cinta kepada Indonesia. Dia lalu menciptakan lagu “nasional” yang mendapat pujian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
NOSTAL N. SAPUTRI, Jakarta Indonesia, hatiku, rumahku, bangsaku;
Indonesia, banyak pulau, banyak kebudayaan menyatu;
Dari gunung ke laut, wajah yang tersenyum di mana saja;
Selamat datang di Indonesia, rumahku, bangsaku, Indonesiaku.
—————

Itulah lirik lagu yang Minggu (19/8) malam lalu dinyanyikan dengan bersemangat di Gedung Arsip Nasional, Jakarta. Sang penyanyi, Vincent Lagea, yang juga sang pencipta lagu, menyanyikannya dengan khidmat. Lagu itu memang diciptakan pemuda berkulit hitam itu sebagai kado bagi bangsa Indonesia yang merayakan ultah kemerdekaan ke-62.

Memakai baju kaus dan penutup kepala warna hitam, Vincent tampil di panggung dengan tangan kiri memegang bendera Merah Putih. Ikut menyanyi di belakang Vincent adalah Menlu Hassan Wirajuda serta beberapa pemuda lain peserta program penerima Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) dari beberapa negara sahabat.

Vincent yang sepintas mirip warga Provinsi Papua itu sebetulnya bukan orang Indonesia. Dia calon pendeta Katolik warga Papua Nugini. Pemuda 32 tahun yang terpilih sebagai penerima BSBI yang diadakan Deplu itu mendadak terkenal menjelang berakhirnya program yang diikuti 50 peserta dari 23 negara se-Asia Pasifik tersebut.

Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ikut memberikan pujian atas lagu ciptaannya. Vincent sudah dua kali diundang ke Istana Presiden, Kamis (16/8) dan Jumat (17/8), untuk menyanyikan lagunya.

“Saya kagum ketika melihat keindahan Indonesia,” kata Vincent kepada Jawa Pos sambil tersenyum ketika ditanya mengapa menciptakan lagu berjudul Indonesiaku itu.

Menurut Vincent, lagu itu lahir saat dia tinggal di Padepokan Bagong Kussudiardja, Jogja, tempat dia menempuh program beasiswa selama 2,5 bulan. “Saya menciptakan lagu tersebut saat belajar budaya dan kesenian Jawa,” katanya.

Sebagai pemuda yang dibesarkan di negara yang berbatasan langsung dengan Provinsi Papua, Vincent mengaku tak pernah menyangka Indonesia punya banyak pulau dengan kebudayaan yang beragam dan maju. “Saya pikir Indonesia adalah negara terbelakang, tidak ada gedung pencakar langit dan sebagian besar wilayahnya hutan,” kata pria berambut keriting itu.

Bayangannya langsung pupus ketika pesawat yang membawanya dari Port Moresby, ibu kota Papua Nugini, mendarat di Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta. “Saya sempat terkesima ketika melihat banyak mobil mewah berseliweran di bandara,” ujarnya dengan bahasa Inggris yang fasih.

Dia lebih heran ketika bus penjemput di bandara menembus jalanan ibu kota menuju Kantor Deplu di kawasan Jakarta Pusat. “Ternyata di Jakarta banyak gedung pencakar langit. Saya kira Jakarta tidak jauh beda dengan Papua,” kata Vinii, panggilan akrabnya di Papua Nugini.

Vincent pernah sekali berkunjung ke Indonesia. “Saya pergi ke Papua lewat jalan darat,” katanya.

Setelah seminggu di Jakarta, Deplu mengajaknya berkeliling ke beberapa tempat wisata di Indonesia. “Saya langsung jatuh cinta. Sejak itu saya merasa wajib membuat lagu yang bisa mengingatkan saya akan negara yang indah ini,” ujarnya memuji.

Dalam bus yang membawanya ke Padepokan Bagong Kussudiardja di Jogja untuk penempatan pemuda peserta BSBI, calon pastor yang juga penyanyi di negaranya itu mulai menulis beberapa baris lirik lagu.

“From the Ocean of Pacific to the Ocean of India there are many thousands islands…..,” katanya menceritakan baris pertama lirik lagu yang ditulisnya awal Juli 2007. Karena dia tak menguasai bahasa Indonesia, lirik lagu itu ditulis dalam bahasa Inggris.

Vincent mengaku, lirik lagu yang kemudian diberi judul Indonesiaku itu adalah lagu paling lama yang pernah ditulisnya. “Saya menulisnya selama sebulan. Padahal, biasanya sehari atau seminggu saya sudah bisa menulis syair sebuah lagu,” ujarnya.

Penggemar kelompok musik Westlife itu mengungkapkan, penulisan lagu tersebut lama karena dirinya ingin membuatnya mudah diingat dan maknanya dalam. “Ini adalah bukti rasa kagum dan cinta saya pada Indonesia,” katanya.

Agar bisa dimengerti orang Indonesia, dia meminta bantuan rekan sesama peserta BSBI asal Australia, Michael Crowe, mahasiswa Australia yang belajar di jurusan sastra Indonesia, untuk menerjemahkan bait-bait lagu Indonesiaku ke dalam bahasa Indonesia.

Perlu waktu berhari-hari bagi Vincent untuk menghafalkan lirik lagu yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Crowe tersebut. “Indonesia…dari gunung ke laut wajah tersenyum di mana saja,” katanya mencoba menghafal salah satu bait lagunya.

Tentang melodi lagunya, Vincent mengaku secara tak sengaja mendapatkan inspirasi ketika mendengarkan sebuah kelompok musik Indonesia yang memainkan lagu dangdut di rumah makan di Jogja. “Saya dengar beat perkusi kelompok itu begitu mengena sehingga saya putuskan untuk membuat melodi yang beat perkusinya seperti itu,” jelasnya sambil mengetukkan kedua pangkal telapak tangan di meja untuk menunjukkan beat yang mengilhaminya.

Kendati lagu itu mendapatkan pujian Presiden SBY, Vincent ingin menyerahkan hak cipta lagunya ke Padepokan Bagong Kussudiardja, tempatnya menimba kesenian Jawa.

Seniman Djaduk Ferianto, anak Bagong Kussudiardja, memang ikut membantu penciptaan lagu yang diusulkan menjadi theme song BSBI yang akan direkam di Studio Kuaetnika itu.

“Saya berharap lagu ini bisa membantu meningkatkan rasa kebanggaan generasi muda Indonesia terhadap negerinya,” ujarnya.

Di padepokan tersebut, Vincent mendapat pelajaran, antara lain, tari kreasi baru (karya almarhum Bagong Kussudiardja), tari klasik gaya Jogja, musik (karawitan klasik dan kontemporer), menyanyi lagu-lagu daerah, mendalami batik, pedalangan, kreativitas seni, dan pengenalan bahasa Indonesia.

Ketika ditanya tanggapan keluarganya tentang prestasinya di Indonesia, Vincent mengaku ibunya terkejut. “Mama tahu bahwa saya suka menciptakan lagu. Tapi, mama tidak pernah menyangka saya akan menciptakan lagu untuk negara lain,” katanya lantas tertawa.

Semua kegiatan dalam rangkaian program beasiswanya berakhir Minggu (19/8) malam. “Tapi, saya pulang (ke Papua Nugini) pada Kamis, 23 Agustus),” tuturnya.

Meski mengaku telah jatuh cinta pada Indonesia, Vincent tetap ingin segera kembali ke negaranya. “Saya ingin segera menyelesaikan sekolah pastor saya dan terus bernyanyi,” ujarnya. (*)


No Comments Yet so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>